5 Januari 2009 oleh Admin
Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini. Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi.
Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam RENUNGAN | Leave a Comment »
12 Januari 2008 oleh Admin
“Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan…
buat diri kita sendiri, ha ha ha…”,
Rekan saya, Pak Asep al mukarrom, memang teman sejati saya untuk
bersama-sama menertawakan dunia.
“Betul itu Pak! Ungkapan Bapak itu filosofis sekali…”, ujar saya
mengamini kesimpulan dia.
Tuhan Maha Adil.
Dan dunia ini diciptakan penuh ketidakadilan.
Tuhan Maha Adil bukan berarti lalu menciptakan dunia yang adil. Dunia
ini memang diciptakan penuh ketidakadilan. Ada anak yang terlahir
miskin. Itu realita. Walaupun dia jenius, tetap saja tidak bisa masuk
sekolah unggulan yang menarik iuran mahal. Ada yang bekerja keras
dengan hasil sedikit, dan ada yang bekerja santai dengan hasil yang
banyak.
Kata Pareto, dari lima roti yang tersedia, empat roti akan dimakan
hanya oleh satu orang, sementara satu roti sisanya akan diperebutkan
oleh empat orang. Selalu akan ada yang hidupnya jauh lebih nyaman
daripada lainnya. Kata siapa dunia itu adil?
Dunia memang tidak adil, kawan.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam RENUNGAN | 2 Komentar »
11 Januari 2008 oleh Admin
Ditulis dalam RUANG MUSIK | Leave a Comment »
10 Desember 2007 oleh Admin
Gangguan seksual pada wanita seringkali dikaitkan dengan beberapa hal. Dari beberapa hal tersebut dua yang sering terjadi adalah malas bercinta karena baru melahirkan dan depresi atau gangguan kejiwaan.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh dr. Frances A. Carter dari Fakultas Kedokteran Universitas New Zealand, Selandia Baru mengungkap fakta bahwa keadaan pasca melahirkan, depresi atau gangguan kejiwaan memiliki efek yang berbeda dalam kehidupan seksual wanita.
Studi dilakukan dengan mengambil sampel 76 wanita yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, terdiri dari 10 wanita yang mengalami anoreksia. Kedua, 24 wanita dengan gangguan depresi dan yang terakhir adalah wanita pasca melahirkan. Semua wanita tersebut sudah menikah dan kehidupan pernikahan mereka dalam kondisi stabil.
Dari hasil peneliian terungkap, jumlah wanita pasca melahirkan yang melakukan seks dalam dua minggu terakhir, dua kali lebih banyak jika dibandingkan dengan wanita depresi atau anoreksia.
Berdasarkan penelitian tersebut juga diketahui seluruh wanita pasca melahirkan ternyata tidak memiliki gangguan sama sekali dalam kehidupan seksualnya. Sedangkan 3 dari wanita yang mengalami gangguan depresi dan anoreksia mengatakan bahwa mereka memiliki gangguan dalam kehidupan seks
Ditulis dalam BERANDA | Leave a Comment »
22 November 2007 oleh Admin
Ditulis dalam KATA HATI | Leave a Comment »
6 November 2007 oleh Admin
Ditulis dalam RUANG MUSIK | Leave a Comment »
3 November 2007 oleh Admin
Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.
Hikam:
“Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik.” (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)
Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita.
Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling
berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.
Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.
Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan.
Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.
Ditulis dalam KATA HATI | Leave a Comment »
1 November 2007 oleh Admin
Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.
Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur’an, “Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya”.
Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.
Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.
Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam KATA HATI | Leave a Comment »
23 Oktober 2007 oleh Admin
Ditulis dalam RUANG KERJA | Leave a Comment »
19 Oktober 2007 oleh Admin
Despite these institutional changes, there has of yet been little hard evidence to dispel the notion that they will not result in any meaningful change. There is a deep-seated suspicion that each new administration comes to power promising reform, but that politics and vested interests triumph over reform.
An important element in overcoming this suspicion and securing needed public support for institutional reform is greater transparency and inclusion of civil society in reform efforts. Again, we have some experience indicating movement in the right direction. For example, the government of Panama invited TI to participate in the oversight of the privatization of the state-owned telecommunications system. The City of Buenos Aires has agreed to work with TI in providing civil society oversight of the contracting for construction of an extension of the subway system. But, there is still inadequate inclusion of civil society on a regular basis in government processes of policy formulation and decision-making. There is still inadequate access to information on a timely basis.
The OAS has played an important role in promoting greater public participation. They have made a place at the table for civil society at many of their meetings and workshops that will hopefully encourage similar inclusiveness of civil society in the discussion and design of national anti-corruption programs at the country level.
Advertisement
The OAS has also promoted implementation of the OAS Anti– Corruption Convention through national workshops. These workshops are useful first steps in raising public awareness about the Convention and providing expertise. Unfortunately, there is no OAS institutional mechanism to ensure continuity, and to follow-up on a regular basis, of how countries are proceeding with implementation.
The Inter-American Development Bank (IDB) has also made a significant contribution by adopting revised procurement guidelines with strong anti-corruption elements. It has also agreed to permit borrowers to require anti-bribery undertakings in bank-financed projects and it is supporting a wide range of in-country programs to improve governance.
III. RECOMMENDATIONS FOR MATCHING EXPECTATIONS TO REALITY
This overview of some of the reforms that are underway reflects the considerable progress that has been made in just a few years, particularly for those who have viewed corruption as too pervasive and entrenched to overcome. But, there are those who continue to doubt the effectiveness of legal remedies to change entrenched practices and vested interests.
There must be hard evidence of meaningful reform in the short– term and, as Mack McLarty put it, “sustained engagement” so that by the Canada Summit in 2001 we have aligned expectations with reality-or reality to expectations. I would like to conclude with a few recommendations as to next steps to help reach that goal.
Ditulis dalam PERPUSTAKAAN | Leave a Comment »